Jawaban Kristen tentang bahasa yang tidak pantas dalam Injil



BAHASA TIDAK PANTAS DALAM INJIL
ANDRE
 201610594 / SEMESTER GASAL (II)
SEKOLAH TINGGI TEOLOGI SIMPSON  
Pendahuluan
            Banyak orang yang berpendapat bahwa kata-kata itu mengandung makna yang besar didalamnya atau dengan kata lain bahwa dibalik kata-kata dan bahasa tersirat pesan yang besar. Bila diperhatikan didalam Injil atau Alkitab banyak memberikan makna dan pedoman sehingga setiap orang memahami setiap arti dari pesan didalamnya. Meskipun begitu, tidak sedikit juga orang-orang yang tidak mengakui Alkitab itu sebagai Firman Allah yang hidup, banyak diantara mereka yang menyangkal Alkitab, mereka menganggap Alkitab sebagai tulisan manusia biasa.  Hal ini disebabkan banyak sekali kata-kata didalam Alkitab yang tidak pantas (tidak relevan) digunakan. Diantaranya kata-kata yang bersifat pornografi,  kekerasan, dan mengandung kata-kata yang tidak pantas untuk dipakai. Alkitab menyajikan pesan dengan cara yang tidak pantas karena bertolak belakang dengan Alkitab yang adalah pesan dan hikmat Allah. Alkitab yang dijadikan pedoman dan juga dijadikan sebagai sumber penghiburan bagi orang-orang yang rindu dekat kepada Allah, seolah-olah adalah kebohongan belaka. Padahal Alkitab adalah dasar dari teologi itu sendiri. Alkitab adalah titik pangkal teologi, sehingga lahirlah filsafat, ilmu-ilmu pengetahuan. Tetapi pada zaman ini banyak orang yang tidak mempercayai Alkitab, bahkan hal ini dijadikan orang-orang diluar Kristen (Islam) dan orang-orang yang membenci Kristen untuk menjatuhkan ke-Kristenan dan Alkitab. Bahkan banyak Ustad, Kiai, dan Haji menyatakan Kristen itu adalah kafir dan tidak benar, mereka menyudutkan orang-orang Kristen. Seakan-akan Kristen adalah salah mempercayai Alkitab, yang selama ber-abad-abad menjadi bagian penting bagi orang Kristen sendiri, yang telah menjadi bagian bagi jutaan jiwa didunia, dan telah menjadi bagian pertumbuhan jutaan Gereja didunia. Jika dilihat dari dalam hal ini banyak hal yang harus dilakukan orang-orang Kristen terutama para teolog untuk menjawab tantangan yang ada dalam memecahkan masalah ini. Dan yang menjadi pertanyaan besar bagi orang Kristen, apakah Alkitab dapat dipercaya ? dapatkah kita menemukan kebenaran didalam Alkitab, dan mengapa Alkitab menyajikan bahasa yang tidak pantas?.
Bab II
Kata-Kata Yang Tidak Pantas didalam Alkitab
            Banyak kata-kata didalam Alkitab yang dijadikan orang-orang untuk menjatuhkan kebenaran yang ada didalamnya, karena memang ayat-ayat didalamnya mengandung makna yang sulit dipahami secara logika. Dan sangat sulit mencari kebenarannya, kalaupun harus menafsirkannya tidak akan benar dengan tepat. Ada beberapa ayat yang tidak masuk akal dan sering menimbulkan keraguan bagi orang Kristen sendiri, dan bahkan menjadi bahan sindiran orang-orang non-Kristen:
“O, seandainya engkau saudaraku laki-laki, yang menyusu pada buah dada ibuku, akan kucium engkau bila kujumpai di luar, karena tak ada orang yang akan menghina aku!” (Kidung Agung 8:1)
Sangat jelas ayat ini kontroversial, kata-kata yang tidak pantas dan bersifat pornografi, sangat tidak masuk akal dan tidak bisa dipahami secara akal manusia bahwa ayat ini menceritakan seorang mempelai perempuan mau meniduri saudaranya laki-laki, meskipun ada kata ‘seandainya’. Tetapi itu sudah mewakili maksud hati atau bisa juga disebut dengan keinginan. Bila mengacu kepada  Matius 5:28 “  Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” Hal sangat bertolak belakang dengan perkataan Yesus sendiri, barang siapa menginginkan sudah berzinah didalam hatinya.
            “Dan dengan suara nyaring mereka berseru: "Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!" (Wahyu 7:10).
Ayat ini menjadi salah satu lagu hits “True Worshiper, dengan judul lagu “Tiba Saatnya” lirik nya berbunyi:
“keselamatan bagi Allah yang duduk dan bertahta kami naikkan pada Anak Domba”. lagu ini sangat sering dinyanyikan di Gereja-Gereja, tetapi ada juga aliran gereja yang menentang kata-kata ini. ayat ini menjadi pertentangan diantara aliran-aliran Gereja, ada yang setuju dengan makna tersebut, tetapi tidak sedikit juga yang menolaknya, bahkan di STT Simpson sendiri ayat ini menjadi pertentangan diantara mahasiwa-mahasiswi. Tetapi menurut pendapat saya bahwa, keselamatan bagi Allah itu bukan manusia yang membuat Allah selamat, karena Allah itu Maha Kudus, Maha Tahu, Maha Kuasa, dll. Sangat tidak mungkin siapa pun bisa menyelamatkan Allah, setelah membaca berulang-ulang dan membacanya secara keseluruhan, makna nya bagi saya  adalah “Keselamatan bagi Allah” itu berarti kemenangan Allah yang maknanya pada akhir zaman manusia yang banyak melalui rintangan, cobaan, dan melewati masa-masa sukar telah berhasil masuk kedalam tahta Allah. Dan itu adalah kemenangan Allah, karena Ia berhasil membawa mereka kepada kemenangan yang abadi dan mengalahkan seteru-seteru Nya yaitu iblis.
“Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap umat-Nya, diacungkan-Nya tangan-Nya terhadap mereka dan dipukul-Nya mereka; gunung-gunung akan gemetar, dan mayat-mayat mereka akan seperti kotoran di tengah jalan. Sekalipun semuanya ini terjadi, murka-Nya belum surut, dan tangan-Nya masih teracung.” (Yesaya 5:25)
Ayat ini menjadi kontroversi karena Allah adalah Tuhan yang pemarah dan suka murka, bertolak belakang dengan 1 Yohanes 4:8, yang mengatakan bahwa Allah adalah kasih. Bahkan kasih adalah kata-kata yang paling banyak dituliskan didalam Alkitab. Bahkan didalam 1 Korintus 13:13 berkata:
“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih”. Firman Tuhan juga berkata bahwa kasih menutupi banyak sekali dosa. Jika membadingkan kedua makna ini Allah adalah kasih dan Allah adalah Tuhan yang pemarah manakah yang patut dipegang ?.
Makanlah roti itu seperti roti jelai yang bundar dan engkau harus membakarnya di atas kotoran manusia yang sudah kering di hadapan mereka."
“Selanjutnya TUHAN berfirman: "Aku akan membuang orang Israel ke tengah-tengah bangsa-bangsa dan demikianlah mereka akan memakan rotinya najis di sana. Maka kujawab: "Aduh, Tuhan ALLAH, sesungguhnya, aku tak pernah dinajiskan dan dari masa mudaku sampai sekarang tak pernah kumakan bangkai atau sisa mangsa binatang buas; lagipula tak pernah masuk ke mulutku ini daging yang sudah basi. Lalu firman-Nya kepadaku: "Lihat, kalau begitu Aku mengizinkan engkau memakai kotoran lembu ganti kotoran manusia dan bakarlah rotimu di atasnya."
 Seperti ini Alkitab yang menjadi pegangan dan pedoman dan berisi kata-kata suci ? haruskah mengatakan kata-kata yang tidak pantas dan tidak layak. Jika melihat dari ayatnya Alkitab juga menyampaikan hal yang tidak sopan dan tidak beretika. Alkitab juga tidak memberikan contoh yang baik bagi para pembaca kebenaran Firman Tuhan.
“Berfirmanlah TUHAN kepadaku: "Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti TUHAN juga mencintai orang Israel, sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis.” (Hosea 3:1)
Ayat ini menjadi bahan ejekan orang-orang non-Kristen untuk menjatuhkan Kristen itu sendiri. Sebenarnya Ayat ini adalah gambaran dari keluarga Hosea. Di ayat ini Allah memerintahakan Hosea untuk mencintai perempuan sundal, jika dilihat makna secara harafiah hal ini sangat tidak lazim. Mengapa Allah menyuruh anak-anak Nya melakukan sesuatu yang jahat. Jika hanya dipahamai sekilas saja maka banyak orang akan berpaling dari ke-Kristenan, dan menyudutkan hal ini tanpa mencari tau kebenaran yang sebenarnya.
Dapatkah Alkitab dipercaya?
            Kalimat ini menjadi pertanyaan besar bagi orang Kristen? Tetapi banyak juga pendeta, teolog, dan jemaat yang acuh tak acuh dengan hal ini, dan tidak sedikit juga yang tidak mengetahui didalam Alkitab terdapat kata-kata yang tidak pantas. Hal ini harus dipecahkan masalahnya, kalau tidak akan menjadi bumerang dan pedang didalam ke-Kristenan sendiri. Jika dikatakakan salah sangat tidak mungkin, padahal Alkitab itu sendiri adalah ilham dan pemikiran Allah. Beberapa pertanyaan muncul dibenak kita,
“siapa bilang Alkitab begitu istimewa, sempurna, diilhamkan dan tidak mengandung kesalahan? bukankah terdapat segala macam kesalahan dalam Alkitab?. “
“Siapa bilang anda percaya penuh pada Alkitab ? bukankah Alkitab ditulis oleh-oleh manusia biasa yang sama seperti kita ini? Dan banyak diantar mereka tidak terpelajar dan berpengetahuan.”
“Siapa bilang nubuat yang terujud merupakan bukti bahwa Alkitab itu diilhamkan ? mungkin itu hanya tebakan mujur atau peristiwa kebetulan yang tidak banyak artinya.”[1]

Pertanyaan ini mengusik hati orang-orang Kristen, dan semangkin banyak menimbulkan keragu-raguan di dalam hati. Jika tidak memiliki iman yang teguh, dan dasar percaya yang kuat akan Kristus Yesus, maka akan sangat mudah diombang-ambing kan. Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang menimbulkan keraguan tentang Alkitab itu sendiri. Pertanyaan tentang bagaiman Alkitab itu ditulis, ? siapa penulisnya ? dan bagaimana caranya ? itu sering dipertanyakan. Bagaimana dengan orang Kristen sendiri, apakah mereka mengerti isi Alkitab itu, dan percayakah mereka akan adanya kebenaran Alkitab.? Didalam buku “Dasar yang Teguh” karya J. Wesley Bril mengatakan
“...Si penulis Alkitab itu digerakkan dan dipimpin oleh Allah sehingga ia dapat menuliskan kebenaran-kebenaran yang mungkin sudah ia ketahui lebih dahulu  oleh si penulis, tetapi mungkin juga ia belum mengetahuinya. Bila dikatakan bahwa Alkitab diilhamkan oleh Allah, itu berarti Tuhan Allah menggerakkan  serta memimpin pikiran orang-orang yang menulis Alkitab itu. Dengan demikian Alkitab adalah suatu undang-undang yang tidak mungkin salah dan wajib dipercayai serta ditaati”.[2]
Pernyataan seperti ini tidak hanya ditulis beberapa orang, banyak sekali guru-guru, profesor mengangkat apakah Alkitab itu suatu kebenaran. Orang-orang berusaha menyelami dan bahkan mencari-cari apakah ada petunjuk yang pasti untuk mempercayai Alkitab. Letak perbedaan antara kitab-kitab injil pun menjadi sumber keragu-raguan pembaca kepada Alkitab, jawaban menarik diberikan oleh Dr. Jhon Drane, “Kalau kita mengerti apa yang dikerjakannya, maka kita akan mengerti dengan lebih jelas apa yang ingin dicapainya. Dan kalau kita salah mengerti metodenya, mungkin sekali kita akan gagal menangkap inti beritannya.”[3] Millard J. Erickson mengatakan “...Penulis-penulis Injil terlibat juga dalam kegiatan penafsiran. Mereka mengambil pernyataan-pernyataan Yesus dan kemudian menyatakan artinya dengan kata-kata lain, mengembangkan dan meringkasnya. Sekalipun demikian mereka tetap setia kepada makna asli ajaran Yesus.”[4] Bila melihat metode yang Allah sampaikan di Alkitab sulit membantah bahwa itu salah, karena cara berpikir Yesus yang luar biasa, dan tidak ada yang mampu menandingi, dilihat dari keterkaitan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dan nubuat-nubuat yang dinyatakan di PL dan di genapi di PB maka itu adalah kebenaran yang sulit terbantahkan. “para Nabi dalam Alkitab adalah juru bicara Tuhan... seorang nabi adalah seorang penerus berita yang menyatakan kehendak Allah kepada. Para nabi yang diilhami oleh Roh Kudus itu berbicara tentang hal-hal yang akan terjadi di masa depan.”[5] Dengan demikian nyatalah bahwa Tuhan memakai mereka untuk meyatakan kebenaran tentang Allah.
Kesimpulan
            Bila dipandang secara logika sempit maka sulit untuk mempercayai bahwa Alkitab itu benar, karena didalamnya ada beberapa makna tentang Alkitab mengatakan hal-hal tentang yang tidak pantas. Alkitab menceritakan tentang hal pornografi seperti Nuh dan anak-anak nya, Yehuda dan Tamar, bahkan Raja besar Daud melakukan hal itu dengan Bersyeba.tetapi jika kita melihat dengan sangat teliti bukan itu maksud Tuhan yang sebenarnya, tentu Tuhan punya makna dan tujuan yang tidak di ketahui oleh manusia. Jika kita ingin menemukan kebenarannya, harus nya dilakukan dengan tafsiran yang benar, dan teliti. Sehingga tidak menimbulkan kesalahan, disinilah letak kesalahan para pembaca yang hanya bisa mengkritik Alkitab dengan mengatakan bahwa Alkitab adalah sebuah kesalahan, dikarenakan tidak menafsirkannya dengan benar. Terkadang dengan sengaja mereka menjatuhkan kebenaran Alkitab, “karena mereka tahu dan mulai memperhatikan dokumen-dokumen, maka tampak oleh mereka bahwa kitab berisi hal yang tidak sejajar, kaum lawan dengan sengaja memanfaat kan dan menyalahgunakan  masalah-masalah tersebut.”[6]
Wahyu 22:7, “Sesungguhnya Aku datang segera. Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini!”
ayat ini menjawab tantangan dan keraguan tentang Alkitab, bahwa setiap orang yang menuruti dan percaya bahwa akan ada kebenaran yang sesungguhnya yang diberikan oleh Allah maka akan mendapat tempat yang indah di surga. Berkaitan dengan makna bahasa yang tidak pantas didalam injil itu bukan dengan sengaja dituliskan tetapi itu adalah sebuah kiasan dari frasa terebut. Tergantung bagaimana kita menafsirkan, dan mengartikannya, tafsiran yang baik dan benar menghasilkan hasil yang baik. Memang sangat sulit menemukan kebenaran yang mutlak didalamnya, tetapi hanya Tuhan yang mengerti akan hal tersebut, dan Ia tentu mempunyai maksud dan tujuan didalamnya.  “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Timotius 3:16)
Daftar Pustaka


Brill, Wesley. J, Dasar Yang Teguh, Bandung:Kalam Hidup, cetakan 27
Fritz, Ridenour,  dapatkah Alkitab dipercaya. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1967
Drane, Jhon, Memahami Perjanjian Baru. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1986.
Erickson, Millard. J, Teologi Kristen. Malang:Gandum Mas, 1983.
Bruggen, van. Jacob,  Kristus Di Bumi. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1987.


[1] Ridenour, Fritz, dapatkah Alkitab dipercaya, (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1967), 1.
[2] J. Wesley Bril, Dasar Yang Teguh, (Bandung:Kalam hidup, Cetakan 27), 25
[3] Jhon. Drane, Memahami Perjanjian Baru, (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1986) 187
[4] Millard J. Erickson, Teologi Kristen, (Malang:Gandum Mas, 1983) 157
[5] Ridenour, Fritz, dapatkah Alkitab dipercaya, (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1967), 84.
[6] Jacob, Van Bruggen, Kristus Di Bumi, (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1987), 86

Komentar